Tuesday, December 09, 2014

Bersyukur

Apakah kita perlu waktu tertentu buat bersyukur?
Idealnya gak mungkin ya.
Jadi menjelang makan siang ini, di tengah-tengah revisi timeline kempen, teman kerja sebelah yang sibuk menelepon, dan By Your Side dari Sade....
Gue tiba-tiba ngerasa harus bersyukur, buat kenyamanan yang tiba-tiba datang menghentak.
....
Oh, when you're cold
I'll be there
Hold you tight to me
....
And if you want to cry
I am here to dry your eyes
And in no time
You'll be fine
......
Thanks, buat siapa pun itu. Apa pun itu.

Tuesday, December 02, 2014

Bias Gender, Rasis, atau apalah namanya itu.....


Saya suka pendiriannya Morgan Freeman tentang Black People diatas, atau orang kulit hitam: buat menghilangkan ketidak-seimbangan ras, kenapa kita harus membahasnya?
Kita harus menganggap kesetaraan dengan tidak melakukan pembahasan tentang kesetaraan. Anggaplah bahwa kesetaraan itu adalah hal yang biasa dalam hidup, sebiasa kita bernafas tanpa kita sadari. Semakin kita membasa kesetaraan/ketidak-setaraan, itu semakin memperuncing ketidak-setaraan yang ada.
Saya kegatelan nulis ini setelah membaca dua hal pagi ini: postingan di Daily Social tentang perempuan di dunia digital, dan postingan teman tentang lowongan pekerjaan yang salah satu persyaratannya adalah: perempuan.
Terus terang saya suka agak kesal melihat postingan pekerjaan yang salah satu persyaratannya adalah harus perempuan. Menurut saya, untuk masalah profesionalitas, sebenarnya kualitas perempuan dan laki sama saja. Kurang - lebihnya sama. Kecuali kalau memang perusahaan yang bersangkutan punya kebijakan bias gender. Pembagian posisi dan peran yang tidak adil antara laki-laki dan perempuan, dalam aspek apa pun.
Siapa yang bilang cowok diuntungkan dalam hal pekerjaan? Coba liat lowongan pekerjaan sekarang, ada berapa banyak lowongan yang mencatumkan salah satu persyaratannya: female.
Jadi jangan harap deh kita semua sadar gender kalau masih ada persyaratan di lowongan pekerjaan seperti itu.
Sama halnya dengan rencana pemerintah yang ingin mengurangi jam kerja buat perempuan.
Lah....#tepokjidat
image di atas saya ambil dari tautan ini: http://www.snopes.com/politics/quotes/blackhistory.asp

Monday, November 24, 2014

Menulis Messi

Anak kecil pendiam itu suka sekali Alfajores, kue coklat khas Argentina. Mungkin ini yang mengilhami sang pelatih sebuah klub sepakbola Newell's Old Boys, di Rosario, Argentina membuat perjanjian dengan anak kecil itu: sebuah gol untuk sebutir Alfajores.
Siapa sangka Carlos Marconi, sang pelatih, kelimpungan untuk menyediakan Alfajores buat anak kecil itu. Meskipun berbadan lebih mungil jika dibandingkan anak-anak lainnya, bocah pendiam itu mampu mencetak empat sampai lima gol untuk klubnya.
Marconi lalu mengubah perjanjiannya: dua butir Alfajores untuk setiap gol yang dicetak dengan sundulan kepala.
Pada pertandingan selanjutnya, bocah pendiam itu dengan gesit menggocek bola melewati beberapa pemain penyerang lawan - termasuk kiper, untuk kemudian berhenti di kotak gol, melontarkan bola ke atas dan mencetak gol dengan kepalanya. Marconi yang tertegun menatap acungan dua jari dari Messi kecil.
Banyak dari kita membandingkan Messi dengan salah satu pemain sepakbola terbesar dari Argentina, yang juga merupakan kelahiran Lionel Messi, yaitu Maradona.
Tapi coba tanyakan hal yang sama kepada penduduk Negara Pegunungan Perak itu, mereka bakalan menolak mentah-mentah. Mereka melihat Messi sebagai orang yang 'kurang Argentina'. Messi memang lahir dan menghabiskan masa kecil di Argentina, tapi hanya sampai usia 13 tahun. Selepas itu, dia pindah ke Spanyol dan memperdalam torehan prestasinya di lapangan hijau.
Kritik terdengar keras di kampung halaman Messi, Rosario: Messi terlalu cepat meninggalkan Argentina.
Padahal, pindahnya Messi ke Spanyol semata-mata (mungkin) hanya karena faktor kesehatan: Messi Muda menderita kekurangan hormon pertumbuhan dan harus diberikan suntikan harian untuk mengatasi hal ini. Awalnya sang Ayah, Jorge Horacio Messi - seorang pekerja pabrik baja, mampu memenuhi biaya perawatan dari asuransi kesehatan tempat dia bekerja. Tapi ketika skema asuransinya berubah dua tahun kemudian, mereka kelimpungan.
Klub bola lokalnya tidak mau memberikan fasilitas perawatan itu. Disinilah F.C. Barcelona lewat Sports Director-nya Carles Rexach mengambil peranan itu. Selanjutnya, dunia menyaksikan seorang Messi muda yang tumbuh mejadi salah satu legenda lapangan hijau.

------
Tulisan ini seluruhnya disadur dari sebuah artikel di New York Times. Artikel lengkapnya bisa dilihat di tautan http://www.nytimes.com/2014/06/08/magazine/the-burden-of-being-messi.html

Tuesday, November 18, 2014

Ingatan Sore Hari 20141118

Katanya, waktu kita kecil dulu,  kalau kita tertidur di sofa dan waktu terbangun kita masih di sofa, artinya kedua orang tua kita sudah menganggap kita besar.
Dan gue gak akan pernah lupa sepotong ingatan gue lusinan tahun yang lalu, ketika gue kecil tertidur di sofa dan nyokap berusaha sepelan mungkin menyelimuti gue.
Gue kebangun, tapi gue pura-pura masih tidur.
Menurut gue, itu adalah hadiah ulang tahun yang mungkin gak bisa dilupa-in.

Gimana caranya agar kita bisa menghadapi bayangan ketakutan kita?

Friday, November 14, 2014

Inspirasi Jum'at sore, dibawah rindang pohoh sekolah putri jail

" Once you decided on your occupation, you must immerse your self in your work. You have to fall in love with your work. Never complain about your job. You must dedicate your life to mastering your skill. That is the secret of success, and that is the key being regarded honorably,"  (Jiro Dreams of Sushi).

Menjelang kantor baru.
Pekerjaan baru.

Bismillah.

Saturday, November 01, 2014

PR-ing

Ya ya ya, saya punya pekerjaan sebagai konsultan PR: ngasih tau media dan publik kalau: "....eh tau gak? Ternyata......" bla bla bla.....
Beberapa tahun yang lalu, saya sempat membaca sebuah nasihat untuk seorang salesman: "....terlepas dari barang apa yang kamu jual, komoditi terpenting yang harus kamu jual adalah diri kamu sendiri." Saya lupa lagi siapa tokoh yang memberikan nasihat ini.
Dan itu seharusnya bukan nasihat untuk seorang salesman doang; tapi nasihat buat kita semua - pekerja profesional.
Saya teringat ini karena dua hal: pengalaman pribadi saya dan postingan di tl Mas @imanbr tentang Puan Maharani - anak Megawati yang diangkat oleh Jokowi jadi Menko....apalah namanya...lupa.
Saya, juga mungkin beberapa teman saya banyak yang mencibir waktu Jokowi mengangkat Puan Maharani jadi seorang menko. Bagi-bagi jatah lah. Itu pikiran saya.
Belum lagi kiprah Koalisi Indonesia Hebat untuk menandingi Koalisi Merah Putih di lembaga legislatif yang sepertinya gagal.
"Puan kerjanya apa ya? Itu kok KMP bisa leluasa gitu," saya membatin.
Yah....saya memang kadang-kadang berpikiran pendek.
Cerita Puan Maharani lewat TL Mas @imanbr sedikit banyak memberikan sudut pandang lain buat Puan Maharani.
TL Mas @imanbr juga mengingatkan saya tentang pentingnya kita mengkomunikasikan diri kita ke orang lain. Tanpa niat untuk menyombongkan diri tentunya.
Gimana dengan pengalaman pribadi?
Dalam beberapa wawancara pekerjaan, saya selalu mendapati pertanyaan seperti: "Apa kelebihan kamu dibandingkan kandidat lainnya?"
Ini pertanyaan yang sulit buat saya: saya gak mau menyombongkan diri dengan menjawab pertanyaan itu tapi itu adalah pertanyaan yang harus dijawab.
Cara menjawab pertanyaan itu mencerminkan bagaimana kita mengkomunikasikan diri kita kepada orang lain: apakah kita mau kelihatan sombong? Rendah diri? Berhati-hati? Atau gimana?
Beberapa waktu yang lalu saya punya kesempatan untuk melakukan wawancara pekerjaan dengan salah satu perusahaan nasional yang mendunia.
Sebagai orang PR yang berpendapat bahwa salah satu kunci sukses dari corporate communication adalah dengan mempersonifikasikan sebuah lembaga/perusahaan, saya bertanya ke pewawancara: "Kalau diibaratkan orang, bagaimana bapak menggambarkan perusahaan ini?"
Figur petinggi yang sudah 20 tahun malang-melintang di perusahaan itu bilang ada 3 sifat manusia yang bisa menggambarkan perusahaan itu: Humanize, Humor, Humble.
Humble....itu memang yang selalu saya lihat di orang-orang perusahaan itu. Meskipun demikian, perusahaan itu punya reputasi global. Gimana caranya perusahaan itu menerapkan PR-nya, apa yang jadi falsafah kegiatan corporate communication-nya, mungkin bakalan jadi hal yang menarik buat dipelajari.
Dan saya juga sadar kalau pertanyaan bagus bukan modal yang cukup untuk bisa diterima di perusahaan itu: Astra International.

Monday, October 20, 2014

Gelombang - Supernova



Mungkin gue terlalu banyak berharap sama Dee untuk bukunya: Gelombang.

Gelombang gue beli waktu di Bandung.

Amazingly, gue kelar bacanya dalam dua hari: gue terus baca buku ini, membalik halaman dengan segera, dengan harapan bahwa Dee bisa memberikan kejutan-kejutan di halaman-halaman berikutnya seperti di beberapa seri Supernova sebelumnya.

Tapi ternyata enggak.

Salah satu yang ngebuat Gelombang menjadi yang paling tidak menarik, menurut gue adalah alur cerita dan eksplorasi tokoh-tokohnya.

Gue enggak menemukan alur cerita maju mundur seperti di Akar atau di Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh. Alur cerita khas Supernova yang mempermainkan imajinasi pembaca. Melompat-lompat, menarik.

Gue juga enggak menemukan eksplorasi tokoh yang cerdas yang pernah Dee sajikan di Petir atau di Partikel, dengan penggambaran yang witty. Sepertinya, semua tokoh yang ada di Gelombang diceritakan datar-datar aja: karakter dan pemilihan kata.

Dari seluruh seri Supernova: Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh - Akar - Petir - Partikel dan yang terakhir: Gelombang, rasa-rasanya, menurut gue, Gelombang adalah buku yang paling gak menarik dari seri Supernova.

Top list dari buku seri Supernova, menurut gue, adalah Akar di posisi pertama, Petir di posisi kedua, lalu Partikel dan Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh di posisi ketiga. Terakhir, di posisi keempat, ada Gelombang.

Gue malah lebih bisa menikmati buku Dee yang lain: Perahu Kertas daripada Gelombang. Madre juga lebih oke. Rectroverso dan Filosofi Kopi sepertinya 'terlalu enteng' buat Dee.

Di buku ini, Dee bilang bahwa:
....
Lewat Gelombang, saya bereksperimen dengan pola kerja yang lebih sistematis, memiliki target waktu yang jelas dan evaluasi hasil yang lebih terukur, ditopang dengan pemetaan cerita yang lebih mendetail dan perhatian ekstra terhadap struktur.
....
Yah, mungkin gue gak terlalu suka sama hal-hal yang lebih terstruktur dan teratur.
Mungkin sama seperti gue lebih suka lagu-lagu Slank yang dulu, yang jauh lebih ekspresif.

Catatan: Image diambil dari website Bentang Pustaka

Saturday, October 04, 2014

Selamat Ultah Putri Jail

Hari ini Putri Jail ulang tahun yang kedelapan.
Klise memang, tapi memang waktu rasanya berjalan cepat.
Delapan tahun yang lalu, dia lahir sekitar satu jam lewat tengah malam. Ibunya sudah datang ke rumah sakit dari siang harinya. Jadi proses 'ngeden'-nya sekitar 12 jam. Saya menunggu disamping partner saya, setelah sebelumnya terbirit minta izin dari kantor.
Satu hal yang saya ingat waktu Putri Jail pertama kali hadir di tengah-tengah kami: matanya yang bulat dan besar. Saya juga ingat waktu dokter saat itu dengan tega membersihkan kerongkongannya.
Dua atau tiga hari pertama di rumah sakit, partner saya stress karena ASI-nya keluar sedikit sekali. Later on saya baru tahu kalau itu wajar: bayi yang baru lahir bisa bertahan dan beradaptasi untuk kebutuhan asupannya yang berbeda dengan saat dia di kandungan.
Saya juga ingat betapa girangnya waktu Putri Jail pertama kali buang air besar saat kami sudah pulang ke rumah.
Sekarang Putri Jail sudah besar: 8 tahun. Nakal, suka ngelawan, susah nurut, dan malas bangun pagi serta menyisir rambut setelah mandi.
Tapi di luar semua itu, kami, saya dan partner saya menyayangi dia. (Walaupun dia sering merasa bunda-nya yang lebih menyayangi dia sementara saya hanya suka menjahili :) ).
Gak apa-apa ya Putri Jail.
Jalan kita masih panjang.
There will be a lot of ups and downs.
Hope we will enjoy the ride.
All of us together.

Thursday, July 03, 2014

Ibadah

Alkisah ada seorang manusia yang sangat bejat: beragam kelakuan nista sudah jamak dilakukannya. Mulai memfitnah sampai membunuh, mencuri sampai menipu, mencopet hingga menipu.
Dia punya wasiat yang selalu dia bilang ke keluarganya dan teman-teman dekatnya: jika saya mati nanti, bakar jenazah saya, hancurkan tulang belulang saya, lalu sebarkan di seluruh penjuru lautan dan tebarkan di semua arah mata angin.
Singkat cerita, usia si Fulan habis. Keluarga dan kerabatnya melakukan wasiat yang dia minta. Jenazah dan tulang belulangnya yang sudah menjadi debu, disebarkan di seluruh penjuru lautan dan arah mata angin.
Namun dengan kuasa yang dimiliki-Nya, Allah SWT dengan mudah mengumpulkan abu debu jenazah si Fulan, menghidupkannya, lalu bertanya:
"Wahai Fulan, kenapa kamu mewasiatkan kepada keluarga dan kerabatmu untuk membuat jenazahmu menjadi abu dan debu, lalu menyebarkannya ke seluruh penjuru lautan dan mata angin?"
"Ya Allah SWT Yang Maha Kuasa dan Maha Agung, hamba-Mu yang hina dina ini malu akan kehidupan di dunia fana yang telah dijalaninya: segala perbuatan nista telah jamak hamba lakukan. Hamba malu menghadap Mu Ya Allah. Hamba ingin bersembunyi dari Mu ya Allah."
"Wahai Fulan, rasa malu mu itu, membuat kamu masuk Surga. Masuklah sekarang," sabda Allah SWT.

Cerita diatas, saya baca dari beragam cerita Al-Ghazali, yang sudah saya baca beberapa tahun yang lalu. Cerita yang mengajarkan kepada saya bahwa daya nalar kita sebagai manusia yang amat sangat terbatas.
Kisah diatas muncul kembali ke ingatan saya beberapa hari terakhir ini, yang diiringi dengan pemikiran saya mengenai ibadah.
Mungkin saja, orang yang sering beribadah: ke masjid untuk shalat, tadarusan, bersedekah, berpuasa, dan yang lainnya; adalah upaya dari mereka yang mencoba meyakinkan diri mereka sendiri tentang islam dan Allah SWT. Dan kebalikannya: mereka yang jarang beribadah, adalah mereka yang dengan haqul yakin, yakin dengan sesungguh-sungguhnya, dengan nilai-nilai keislaman dan Gusti Allah SWT.
Mungkin.

Tuesday, May 27, 2014

The First Time I Ever Saw You Face

The first time ever I saw your face
I thought the sun rose in your eyes
And the moon and the stars were the gifts you gave
To the dark and the endless skies, my love
To the dark and the endless skies

And the first time ever I kissed your lips
I felt the earth move in my hand
Like the trembling heart of a captive bird
That was there at my command, my love
That was there at my command, my love

And the first time ever I lay with you
I felt your heart so close to mine
And I knew our joy would fill the earth
And last till the end of time, my love
And it would last till the end of time, my love

The first time ever I saw your face
Your face
Your face
Your face

sing by Roberta Flack (1969)
written by Maccoll, Ewan
Template Designed by Douglas Bowman - Updated to New Blogger by: Blogger Team
Modified for 3-Column Layout by Hoctro