Wednesday, December 21, 2016

2016

Mungkin kita butuh penanda.
Gak tau kenapa, kalimat dari postingan Bagja - Salju di Paris, itu selalu melayang di pikiran saya setiap kali menjelang akhir tahun. Saya pikir, Bagja ada benernya: bahwa sebenarnya, jauh di dalam lubuk kita, kita - manusia - butuh penanda, dalam hal ini penanda perubahan waktu. Karena kalau kita pikir lagi, apa bedanya hari Sabtu tanggal 31 Desember 2016 dengan hari Minggu tanggal 1 Januari 2017?
Beberapa hari yang lalu, istri saya tanya - merujuk ke akun Twitter Cenayang Film - kalau diibaratkan judul film, hidup kita di tahun 2016 apa? Dan dia jawab sendiri: The Pursuit of Happiness. Istri saya memang orang yang pesimis - beda jauh sama saya.
Film drama yang dibintangi oleh Will Smith itu menggambarkan hidup yang penuh perjuangan: ditinggal istrinya, hidup di tempat penampungan sama anak semata wayang, wawancara kerja dengan pakaian yang belepotan dengan cat rumah. Tapi akhirnya dia meraih sukses di pasar saham Amerika sana, di negeri impian.
Kembali ke pertanyaan istri saya tadi: saya dengan asal menjawab
"kan ada tuh film cowboy judulnya The Good, The Bad, The Ugly; itu lebih cocok"
Jawaban yang pesimis.
Iya. 2016 is not my best year so far, it has not been kind to me.

Satu Dekade
10 tahun yang lalu, saya memutuskan buat keluar dari pekerjaan mapan saya: wartawan di Bisnis Indonesia, yang katanya koran ekonomi terkemuka di Indonesia.
Kerja jadi wartawan itu enak, seenggaknya menurut saya. Tapi saya merasa stagnan di bidang ini, saya mau cari pengalaman baru. Jadi setelah saya enam tahun di Bisnis Indonesia, saya memutuskan keluar dan bergabung dengan salah satu konsultan komunikasi: Maverick, tempat saya belajar semuanya yang saya tahu sekarang tentang Public Relation.
Kalau saya bandingkan antara sekarang dan 10 tahun yang lalu, kayanya akan sangat jomplang. Saya yakin, dulu saya ketika memutuskan pindah dari Bisnis Indonesia ke Maverick, saya penuh semangat untuk belajar apa yang bisa dipelajari tentang kehumasan, corporate communication, digital, dan semuanya tentang komunikasi.
Dan sekarang, kayanya kok semua semangat itu hilang ya.
Worst thing about bad times, for me, is losing all hope and positive attitude; it will drown you deeper to hopeless limbo.

Tuesday, November 15, 2016

Beberapa malam yang lalu, di tempat tidur, terbersit dua doa yang mungkin selama ini gue butuhin.
Ya Allah, angkatlah beban perasaan dan pikiranku, buatlah jiwa dan perasaanku seluas samudera dan benak pikirankut selega angkasa.
Gak tau deh, itu ada berapa doa ya?

Friday, November 04, 2016

Demo 4 November 2016

Daripada demo, mungkin lebih baik gue ngeliat diri gue sendiri: apakah gue udah beribadah dengan benar?
Beberapa waktu setelah Ahok melakukan kesalahan, ada komentar bagus dari salah satu legenda hidup, Bang Iwan, yang kurang lebih dia ngomong kaya gini: "Itu gara-gara Ahok, kita jadi lebih serius baca Al Quran."
Iya, bener juga
Gue tadinya gak ngeh Surat Al Maidah (yang entah ayat berapa itu) ngomongin tentang pilihan pemimpin. Tapi setelah ada peristiwa ini, gue jadi tau.
Gue sendiri muak sama demo.
Menurut gue, melakukan demo itu justru lebih berdampak buruk ke orang-orang biasa. Beberapa tahun yang lalu, waktu demo buruh ngeblokir jalan tol Cikampek, ada berapa ratus orang yang justru mendapat kerugian dengan aksi demo buruh?
Iya Ahok salah, omongannya emang gak bisa dikontrol.
Dan gue merasa kasian sama orang-orang yang ikutan demo itu karena menurut gue mereka dimanfaatin sama sekelompok orang yang punya kepentingan berbeda. Kepentingan yang sama sekali gak berhubungan dengan masalah keimanan.
Gue Islam dan berusaha melakukan sebaik-baiknya kewajiban gue sebagai pemeluk agama Islam. Tapi terkadang gue terpana sama pembelajaran yang gue dapet dari temen-temen beragama lain.
Gue terpana sama umat Budha yang rela memindahkan patung Budha karena desakan segelintir orang, atau umat Budha yang tetap sabar ketika Vihara mereka dihancurkan sama orang-orang yang gak bertanggung jawab, dan mereka membangun kembali Vihara mereka.Tapi yaaa jangan ngomongin umat Budha di Myanmar yaaa
Gue juga tercenung waktu ngebaca pendapat temen gue yang non muslin dan bilang "Yaaaa, Tuhan gue sih udah gak perlu dibela lagi, udah sakti kali Dia." Menyiratkan bahwa dia lebih memilih untuk fokus kepada dirinya agar lebih beriman daripada melakukan debat kusir SARA.
Dan kalau Bruce Lee bilang "Don't pray for easy life, pray for the strength to endure a difficult one."
Well sir, I guess Mine is Stronger, I'll ask booth.

Wednesday, October 12, 2016

What is it like being 40

Being 40 means:
  1. Banyak merenung karena memasuki angka digit yang berubah
  2. What I have done....what I have done....what I have done
  3. Lebih mikirin anak istri daripada diri sendiri
  4. Lebih pengen banyak waktu sendirian
  5. Lebih banyak khawatir untuk semua hal-hal yang sepele, (which is useless karena bagaimanapun juga, mungkin itu akan kejadian....so why worries anyway?)
  6. Pengen bisa maen gitar yang lebih gape
  7. Pengen punya gitar akustik nylon baru yang fret-nya agak lebih lebar,
  8. Gak nolak kalo ada yang kasih gitar semi accoustic
  9. Pengen jalan-jalan sendirian, kelayapan gak tentu arah, malem-malem(yaaa nanti besoknya kerokan.....)
  10. Pengen lebih bisa masak
  11. Which is kepikiran pengen punya panggangan, 3 ukuran
  12. Dengan dapur luas
  13. Pengen punya juga Blender, Food processor, Gilingan....you name it
  14. Jangan lupa pressure cooker....5 unit yang berbeda ukuran
  15. Finds a new tagline: Shit happens sometimes and I always survive
  16. Lebih gak sabaran untuk hal-hal tertentu (someone out there will shout: YOU THINK???!!!! yes you, I always loved you)
  17. Lebih pengen berguna buat orang-orang sekitar
  18. Lebih suka musik-musik dari sekitar 20 tahunan yang lalu......(currently we are all agree that the term of 'recycle' can be applied for something that not a gargabe.....that's one thing....)
  19. Lebih suka ngebatin: elo baru lahir...gue udah naksir orang.....dem....
  20. Lebih pengen suka diliatin senyum sama putri jail...so far, dia lebih suka niru gue: manyun....(big hope i guess)
  21. Lebih pengen ngabisin waktu bareng-bareng orang terdekat
  22. Lebih gak penasaran untuk hal-hal tertentu (ah elo mah emang cuek aja.....)
  23. Lebih suka gak ngerti sama tren-tren anak-anak sekarang....(dasar anak muda....)
  24. dan akibatnya suka gak nyambung sama anak-anak abege itu...
  25. Jadi lebih suka was-was kalo makan (duh ini buat darah tinggi ya? kolestrol gimana)
  26. Lebih sering denger temen-temen atau temennya temen yang duluan meninggal
  27. Lebih selektif berinteraksi sama orang-orang (....karena tingkat baper yang menaik....mungkin)
  28. Lebih suka penasaran sama kerjaan (lah ini kerjaan kaya gini kok......)
  29. Lebih sering dianggap sok tau
  30. Lebih suka cape dengerin orang-orang ngomong....
  31. Tapi lebih suka liat orang ngomong di YouTube
  32. Lebih pengen suka santai (nyantai bray....)
  33. Dan gak suka liat orang laen keburu-buru (umur umur umur)
  34. Lebih suka bertanya dalam batin: kenapa....kenapa...kenapa
  35. Lebih gampang cape (Njirrrr.......)
  36. Lebih ngerasa harus banyak bersabar (YA IYALAAAHHHH)
  37. Lebih sering ngerasa gak puas 
  38. Lebih sering mengajukan protes.....dalam hati
  39. Lebih sering maki-maki orang.......dalam hati
  40. Lebih sering iri sama orang-orang yang sederhana tapi bahagia
Duh duniawi semuanya yaaaa
Happy birthday to mee
(image was taken from: https://id.pinterest.com/cadimanet/being-40/)

Tuesday, August 23, 2016

Bitter

Currently, I becoming a bitter person. I have negative comment (in my mind) for almost everything. You name it: from the first dawn of opening my eyes in the morning until the sleepy hours late in the night.
Every single experience that I have, the negative feedback is always pop up in my mind as the first thought.
I now re-reading Blink from my favorite writer Malcolm Gladwell, just to realize that my current tendency is quite dangerous for my development.
Oh by the way, my ultimate goal in this session of life is: calm and balance. To have a wide and broad self consciousness soul like a deep blue calm water.
I really need to sleep now, waking up and realize that I'm dreaming.

Ibay

"Gue gak pernah anggap gue jurnalis waktu di Jerman dulu, karena kerjaan gue adalah translate berita. Reporter. Jurnalis itu: dia riset, wawancara orang, nulis dari awal. Gue cuma terjemahin dari bahan yang ada. Malu gue (kalo nyebut gue jurnalis)."
Gue lebih kenal dia dengan nama Ibay; meskipun dia punya nama asli yang jauuuuh lebih bagus.
Pertama kali ketemu dia adalah tahun 1997; hari pertama gue kerja di radio di Bandung sana. Pekerjaan pertama gue adalah: literally penerima telepon. Itu juga adalah kali pertama gue berkenalan dengan industri komunikasi.
Dulu dia punya posisi yang jauh lebih tinggi daripada gue yang sekedar menerima telepon masuk: Koordinator Liputan. Dan karena bimbingan dia, gue bisa menapak ke tingkat yang lebih tinggi: staf BURAS (will let you know in separate writing yaaa), reporter, penyiar, dan produser.
Dia salah satu mentor terbaik yang pernah gue punya; yang sayangnya makin kesini makin jarang gue dapet mentor di tempat kerja sebaik dan sebagus dia. 


Monday, June 20, 2016

Ramadhan

Ramadhan kali ini, sepertinya terasa agak berbeda dengan Ramadhan-Ramadhan lainnya. Not in positive way, tapi juga gak parah-parah amat.
Ramadhan kali ini, untuk pertama kalinya setelah akil baligh, gue gak puasa selama 6 hari. Pertama.
Kedua, dan itu semua terjadi di awal puasa.
Ketiga, itu karena gara-gara sakit gejala thypus - yang kedua kalinya dalam waktu tiga bulan terakhir. Sekitar awal Februari kemaren juga gue kena gejala thypus. Duh.
Dan Keempat, cuacanya. Gue pernah baca kalau Ramadhan arti harfiahnya adalah kering atau kemarang. Makanya jangan heran kalau pas Ramadhan, cuacanya selalu kering kerontang, menantang iman buat menahan haus. Tapi tahun ini di Indonesia katanya dilanda kemarau basah, dan ini kejadian di Ramadhan tahun ini: beberapa kali hujan besar melanda Jakarta. Di beberapa daerah lain malah sampai ada banjir.
Kelima, ada deeeehhh.

Tuesday, May 24, 2016