Sunday, July 07, 2019

Putri Jail dan Sekolah Dasar

Nak, malam ini bundamu posting 2 foto kamu di IG, terpaut 6 tahun. 
Satu foto diambil di ruangan tengah, di depan bufet panjang. Kamu tersenyum optimis. Penuh semangat positif. Itu foto saat kamu baru masuk SD.
Foto kedua diambil bunda di tempat kamu sekolah nak. Lengkap dengan pohon rindangnya, dan gaya andalan kamu kalo difoto sekarang ini: sebelah tangan diangkat dan jari membentuk figur tertentu yang sebagiannya sedikit menutup wajah kamu. Sorot mata kamu tetap optimis. Tapi tidak ada senyum.
Apa yang terjadi Nak?
Kamu mungkin punya sejuta jawaban yang kamu dapatkan selama 6 tahun di SD. Sebegitu pahitnya kah 6 tahun di SD?
Ayah ingat waktu pertama kali survey ke SD kamu ini. Kamu pasti suka. Itu pikiran Ayah waktu itu. Dan Alhamdulillah sepertinya kamu memang suka disana: nggak terlalu banyak PR, nggak selalu dalam ruangan, tiap tahun outing.
Mungkin selama 6 tahun ini kamu belajar bahwa hidup terkadang tidak menyenangkan, banyak hal yang berjalan diluar keinginan, dan harus memendam beberapa kekecewaan.
Ayah inget waktu pengumuman NEM kemarin. Angkanya biasa saja, dan buat ayah gak apa-apa. Seharian kita main diluar, kamu kelihatan senang. Tapi malam hari pas mau tidur, kamu nangis perlahan. Ayah tau ini dari bunda.
Percaya deh, ayah sedih kalo kamu sedih.
It's OK Nak.
Menangis dan sedih juga merupakan proses belajar: mengatasi keadaan yang tidak menyenangkan dan mengelola kekecewaan.
Ayah bunda akan jaga kamu, ketika kamu jatuh.
Jangan lupa shalat dan berdoa ya nak.

Saturday, May 04, 2019

Graduation Putri Jail

6 years already.
Anak gue, putri jail, hari ini graduation SD nya. 
Gue masih inget pertama kali bawa dia ke SD nya. Perasaan dulu jaraknya jauh banget dari rumah (bener banget siii). Tapi pas kita nyampe, dia langsung suka sama sekolahnya. Konsep sekolah alam emang beda banget sama sekolah konvensional. Minimal bakat dia yang gak bisa duduk tenang agak bisa tersalurkan di halamannya yang luas dan ruangan kelas yang agak mirip sama gazebo kayu. 
Sementara dari sisi gue sebagai orang tua, seenggaknya gak bakalan diribetin sama PR harian anak SD. Hehehehe.
Gue sadar banget kalo masa-masa yang akan dimasukin putri jail adalah masa-masa berat buat kami: masa remaja. Pengen rasanya ceramahin dia tentang ini: apa yang gue alamin pas remaja, semua kekhawatiran gue, semua harapan gue. Semuanya.
Tapi gue rasa it doesn't work that way. Gue rasa pelajaran tentang kehidupan gak bisa diajarin lewat omongan. Harus dialami sendiri. 

Monday, April 22, 2019

Teroris dan Komunikasi

This is my two-cent on terrorism 

'Yah, kata Ayah teroris itu Islam bukan?'
Yaaa, teroris mah bukan agama dong. Jadi gue sontak jawab: 'Bukan laa.'
Gue jadi teringat sepenggal tulisan di sebuah platform media sosial: terorisme, keadilan, kemanusiaan tidak mengenal agama. Gue percaya di agama manapun selalu menjunjung keadilan dan kemanusiaan, serta menafikkan terorisme.
'Tapi itu kok banyak pemberitaan dan informasi yang berseliweran yang kurang lebih bilang begitu?'
'Yaaa itu sih tergantung media mana yang kita konsumsi.'
Sebagai orang yang berkecimpung di dunia media, gue kurang lebih tau gimana efek sebuah informasi yang disebar-luaskan oleh sebuah media, baik media konvensional/tradisional maupun media sosial. 
Di kalangan praktisi media gue sering denger yang namanya The Rule of Seven. Sebuah strategi manjur yang sering dipraktekan di ranah public relations atau marketing communication. 
Sering liat iklan TV yang diulang-ulang? Atau iklan pop up di detik.com yang itu lagi - itu lagi? Salahin si The Rule of Seven ini.
The Rule of Seven ini kurang lebih maknanya adalah orang-orang harus melihat atau terpapar dengan sebuah ide minimal 7 kali agar ide itu terpatri di benak mereka. 
Dengan kemajuan teknologi, The Rule of Seven ini semakin menggila: kita bisa liat sebuah iklan dari sebuah brand hampir dimana-mana: di KRL pas berangkat kerja, Billboard di mall, pop up banner di  website, YouTube...
Apalagi dengan kemajuan AI yang memicu batasan kita untuk memperoleh informasi utuh: lazim disebut Information Bubble. 
Ketika kita membaca sebuah berita/informasi pada perangkat elektronik yang tersambung dengan email atau akun media sosial kita, maka kita sudah terjebak dalam Information Bubble ini. 
Provider email atau media sosial gratisan bisa mencatat keyword tertentu yang suka kita search, jenis artikel yang suka kita baca, dan informasi pribadi lainnya yang bisa dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Ini ada untungnya (kita jadi dimudahkan untuk mencari sesuatu hal yang sesuai dengan profil kita) tapi ada juga kerugiannya (Information Bubble, kita mungkin hanya memperoleh informasi setengah, bias, gak seluruhnya).
So, what's your take? Controlling the media, or the other way around?

Monday, March 04, 2019

It Takes Time

Meskipun gue orang yang tidak sabaran, gue menyadari sepenuhnya kalau hampir segala sesuatu itu butuh waktu.
Terlepas bahwa di dunia digital sekarang yang semuanya serba cepat, tetep aja semuanya butuh waktu. Ini terlintas waktu beberapa BUMN keuangan bekerja sama - yang sepertinya dipaksakan - untuk meluncurkan LinkAja, platform pembayaran online.
Menurut gue, salah satu pembelajaran terbaru tentang it takes time di dunia digital adalah mataharimall.com dari Lippo Group, yang tutup buku akhir tahun lalu.
Sebagai salah satu e-commerce (dulu) di Indonesia, mataharimall.com mengklaim kalau dia adalah platform e-commerce pertama di Indonesia yang punya kapabilitas online to offline di seluruh Indonesia. Dengan perkiraan investasi sebesar US$500 juta, Lippo juga minta bantuan konsultan e-commerce global buat ngebantu mataharimall.com untuk berkembang.
Gede banget ya.
Coba bandingin sama, misalnya tokopedia atau bukalapak yang awalnya kecil, sekelas industri rumah tangga.
Gue sih ngebayangin dulu di internal Lippo nya kaya gimana ya? Punya Matahari Department Store, tapi malah buat inisiasi baru lewat mataharimall.com; kenapa MDS gak dikembangin ke online aja? Meskipun akhirnya MDS juga bergerak di online, saat mataharimall.com masih beroperasi. Sekarang, katanya mataharimall,com dilebur di matahari.com.
Trus gimana LinkAja?
Ada Ovo dan Go-Pay di ranah yang sama, mungkin sepertinya agak sulit, apalagi ada gengsi masing-masing BUMN. Semoga aja bisa lebih survive.
Jadi sebenernya tulisan ini gue buat untuk ingetin gue, biar gue bisa lebih sabar, lebih bisa menikmati saat ini: karena semuanya butuh waktu.

Wednesday, February 27, 2019

Positif dan Negatif

Suatu waktu, gue pernah ngebaca sebuah artikel, yang kalau dibuat sederhana jadi begini:
Energi negatif mudah mengakar
Energi positif gampang menyebar
Itu sebabnya: ada dendam yang tersimpan bertahun-tahun; dan kita suka ikut tertawa kalau ada teman atau orang di dekat kita yang tertawa terbahak-bahak.
Dua hal ini: positif dan negatif, selalu bergantian mengisi hari-hari, perasaan, pikiran, dan yang lainnya. Sekeras apapun kita berusaha menghilangkan, sisi positif atau sisi negatif, dua-duanya akan selalu ada. Tinggal bagaimana kita mengelolanya: membuat suatu hal negatif, jadi positif; dan mempertahankan suatu hal yang positif.
"Emang beneran? Negatif bisa jadi positif?"
Well, Enda Nasution pernah posting sesuatu di wall FB-nya: If we don't do mistakes, how can we learn?
 

Saturday, February 16, 2019

Coda

Setiap produser musik sepertinya pernah kesulitan membuat coda. Coda adalah bagian akhir lagu, bagaimana sebuah lagu ditutup; dia harus memberikan kesan yang diharapkan produser musik dapat tertanam di benak pendengarnya. 
Sama halnya dengan penulis; gak satu dua penulis yang punya masalah bagaimana mengakhiri tulisan.
My partner juga begitu: jatah penulisan penutup sebuah buku hanya 2 halaman, dan sepertinya itu bagian yang paling lama dibandingkan bagian lainnya dari buku itu.
Sepertinya ini juga yang dihadapi CEO dan Founder Buka Lapak, Achmad Zaki, saat dia mau ngepost tweet kontroversial itu. Dia punya informasi dan data bagus yang mendukung kekhawatirannya tentang Research and Development di Indonesia. Dia merasa harus mengakhiri cuitannya dengan bernas dan menggeletik. Akhirnya kita tau ending 'mudah-mudahan presiden yang baru bisa naikin' memberikan dampak yang kurang oke buat dia.
Dulu waktu ikut latihan penulisan, salah satu pengampu yang juga wartawan senior Masmimar Mangiang pernah berkisah tentang sulitnya mengakhiri sebuah artike.
Syahdan di sebuah majalah mingguan ternama, seorang editor bolak-balik gelisah di mejanya: bergelas-gelas kopi dan belasan batang rokok tak mampu meredakan kegelisahannya. Dia sedang mengedit laporan utama mingguan, yang deadlinenya sebenarnya sudah lewat. Tapi berhubung ini adalah artikel utama, maka artikel ini terus ditunggu.
Di tengah kegelisahan, dia berdiri dari kursi, dan melemparkan pandangan ke ruangan redaksi yang hampir kosong. Lalu melihat secercah harapan, pada seorang editor senior yang terlihat sedang santai membaca.
Dia dekati senior editor itu, meminta tolong untuk melihat artikel utama yang menjadi biang kerok permasalahannya: bagaimana secara elegan mengakhiri tulisan utama majalah mereka. 
Dan editor senior itu tercenung cukup lama. Namun akhirnya artikel itu jadi juga dikirim ke percetakan malam itu.
Artikel utama yang menjadi kunci isu nasional itu akhirnya hanya ditutup oleh satu kata.
Demikianlah.

Saturday, December 08, 2018

Takut

'Ayah, aku takut'
Pagi ini, putri jail ikut tes masuk SMP deket rumah. Setelah mampir ke toko.buku buat beli papan berjalan, kita ke calon sekolah SMP putri jail. Parkirin motor, dan itu ucapan yang pertama dari dia.
'Takut kenapa nak?'
'Soalnya nanti kan ada yang SD nya disini, terus nerusin SMP nya disini.'
'Ya gak apa-apa kan.'
Gue mikir, anak gue ini mungkin kaya bapaknya dulu, suka kurang pede.
'Kamu pede aja nak. Pede itu salah satunya, ketika kamu masuk ke sebuah ruangan, kamu gak bandingin diri kamu sama orang-orang di ruangan itu. Nyantai aja'
'Iya, tapi susah ayah'
'Gak apa-apa, ayah masih belajar juga kok. Boleh takut, wajar kok. Tapi jangan sampe rasa takut itu menguasai diri kamu.'

Takut itu manusiawi. Terakhir gue takut, yang berasal dari perasaan khawatir gue, adalah pada event di awal minggu ini.
Itu adalah event kedua dari klien gue. Event pertama kami, pada akhir bulan kemaren, berjalan gak terlalu lancar: meskipun media datang, tapi itu bukan dari media target kami, yg. akhirnya partner dibantai sama CEO klien kami.
So, the pressure is there. Apalagi jarak antara kedua event itu cuma 2 minggu kurang. Sepuluh hari aja.
Gue, ditengah perasaan khawatir dan takut, melakukan semua persiapan tahap demi tahap. Ini yang bisa gue lakuin. 'Minimal kalo event ini gagal lagi, gue gak marah-marah dan nyesel ke diri sendiri karena gak melakukan ini-itu sebagai persiapan.'  Gitu pikir gue.
Malam sebelum event gue ngebatin: This is it, kayanya udah gue lakukan. Dan mencoba mengenyahkan semua pikiran negatif tentang event ini.
Dan akhirnya event selesai dengan sukses. Klien suka.

Balik lagi ke rasa takut, gue rasa takut itu ada 2 macam: yang beralasan dan yang tidak beralasan. Dua-duanya bisa ditanggulangi sama diri kita sendiri.
Tanya ke diri sendiri: kenapa gue takut? Dan dari pertanyaan itu kita bisa mengurai masalah ketakutan kita.

Update:
Kelar ujian - pulang ke rumah, putri jail bilang: 'Ayah aku suka sekolahnya....'
Dan dia lulus ujian masuk SMP-nya.
Alhamdulillah

Sunday, November 25, 2018

Jaket Hitam

Ini cerita tentang jaket hitam gue; yang umurnya jauh lebih tua dari Putri Jail.
Dibeli waktu gue masih jadi wartawan dan ngekos di Anggrek, sekitar tahun 2003 atau 2004, gak terlalu inget. Kenapa beli jaket di Jakarta yang panas? Karena dulu gue punya niat buat lari di lapangan deket gue kos, jadi semacam jaket olah raga lah. Beli di Slipi Jaya, dulu ukuran XXXL itu gede banget, jauh beda sama ukuran XXXL yang sekarang.
Tapi ternyata cuma sekali atau dua kali jaket ini dipake lari. Selebihnya: jadi penghuni setia lemari baju.
Jaket ini mulai sering dipake waktu gue punya motor, hampir setiap gue pergi pake motor, gue selalu pake jaket kesayangan ini.
Terlalu sering dipake, jaket ini sepertinya sudah melapuk: dulu yang warnanya hitam legam, sekarang merapuh. Baru tau gue dahsyatnya matahari Jakarta yang bahkan bisa melunakkan warna terkelam: hitam legam. Sekarang warnanya hitam abu-abu kusam.
I wasn't thinking to replace the think I preferred for.
Dua atau tiga tahun lalu, gue bela-belain jahit ganti rensleting jaketnya daripada beli yang baru. 
Tapi sekarang sepertinya gue butuh buat beli jaket yang lain. Jaket hitam gue sudah robek. Robekan yang gue tolak keberadaannya selama berbulan-bulan, gue menganggap robekan itu gak berpengaruh signifikan ke fungsinya buat melindungi gue dari terik matahari dan angin malam.
Thank you for your services Jaket Hitam.

Tuesday, October 30, 2018

#jurnalharian 30

Gimana caranya nge-drop potential client:
1. Cari tahu kenapa mau ngedrop. Sejujur-jujurnya, setulus-tulusnya, sesederhana mungkin. Buat kasus gue, mungkin karena gak sreg sama si potential client. Gak apa-apa. This is your life, lo yang ngendali-in hidup lo.
2. Cek sama bos. Minimal tanya: 'hey, is it OK? gue gak sreg sih sama dia.' Cek juga sama bos untuk loading pekerjaan tim, apakah memang sebaiknya di drop atau tim masih punya energi buat ngelanjutin.
3. Cek kontrak, perjanjian, quotation, atau apalah itu namanya. Apakah memungkinkan untuk di drop? Apakah quotation sudah ditanda-tangan basah di atas materai?
4. Cek lagi, kira-kira konsekuensinya apa?
5. Meskipun alasannya personal, tapi buat pernyataan seprofesional mungkin. 'Hei sori, tapi kayanya kita gak bisa terus lanjut.' 'Kenapa?' 'Ya karena gue ngerasa kalo gue gak bisa kerja bareng sama lo.' 'lho, kok gitu?' 'Ya emang seperti itu.' 'Emang kenapa gak bisa kerja bareng sama gue.' 'Gue lebih memilih untuk mengalokasikan energi gue untuk ngerjain hal lainnya, daripada untuk memendam kekesalan setiap kali baca email lo.' 'Ah itu mah perasaan lo aja kali' 'Iya, makanya lo mendingan cari yang lain'

Kaya orang pacaran ya.
Bismillah

Monday, October 29, 2018

#jurnalharian 29a

Kemarin, 28 Oktober 2018, mungkin adalah hari terakhir gue bisa datang ke rumah nenek gue di Cawang; keluarga besar menjual rumah itu dan prosesnya hampir selesai.
Rumah ini, menyimpan banyak kenangan buat gue: menghabiskan masa gue mulai sekolah di TK, tempat ini pula yang jadi salah satu titik awal pendewasaan gue: memulai dunia kerja di Jakarta.
Buat ibu gue dan sodara-sodaranya, rumah ini pasti meninggalkan lebih banyak kenangan daripada gue. Yah tapi life goes on. Ada awal dan ada akhir.
Apa aja ingatan gue tentang rumah nenek gue ini?
Banyak diantaranya pas gue masih TK. Gue selalu bergaul sama pekerja dan staf nenek gue yang memang dulu seorang pengusaha. Gue selalu merengek saat sarapan kalau gak ada makanan favorit gue: cumi asin atau ceplok telor. Nenek gue selalu nyuruh pembantunya buat nyiapin salah sati dari dua lauk itu buat gue sarapan.
Waktu pas renovasi rumah, gue, gak tau kenapa, suka mecahin batu-bata yang seharusya disusun buat jadi dinding atau apalah. Tapi karena batu bata nya suka gue pecahin, ya walhasil kerjaan tukang jadi suka terlambat.
Ada juga waktu pas rumah nenek gue dirampok. Rampoknya kalo gak salah 7 atau 8 orang. Gue, yang selalu tidur sama nenek gue waktu itu, tiba-tiba kebangun dan heran kok banyak orang di rumah nenek gue ya? Kebetulan waktu itu ibu gue dari Bandung lagi datang ke Jakarta buat menyambut My Oldman yang lagi tugas luar pulau. Jadi ada kakak gue juga waktu itu. Yang paling gue inget adalah, pas lagi panik-paniknya orang itu, gue malah nyelonong ke ruang makan, menghiraukan panggilan nyokap gue, karena gue haus pengen minum. Lagi nuangin air ke teko, salah satu perampok nanya ke gue: 'De, tau gak duit disimpen dimana?' - 'Gak tau' sambil minum. Para perampok berhasil kabur semua setelah sempet dipergoki sama tetangga sebelah, dan menembak para perampok. Tapi gak kena. Gue gak tau apa tetangga sebelah itu polisi atau bukan. Bekas tembakan di gedung depan selama beberapa bulan masih sempet terlihat di kusen dan kaca depan. Sedangkan rumah tetangga sebelah sekarang sudah berubah jadi dealer motor Honda.
Sekali lagi, banyak kenangan di rumah tua itu. Dan gue, sebenernya punya khayalan buat ngebeli rumah itu. Just for the shake keeping the memories. Tapi, mungkin khayalan tetap khayalan, dan memang sebaiknya rumah besar itu dijual. Biarlah gue, dan beberapa orang sesepuh serta sodara gue, tetap menyimpan kenangan itu.