Minggu sore, buka account twitter. Senyum-senyum sendiri gara-gara threewordsaftersex...
desta80s:
tobat yuk shalat...
sejak kapan gay?
Nama kamu siapa?
telat nggak ya?
vincentrompies:
maap tadi ketelen!
Nyonya pulang...Tuan
Sedang apa kalian!!!!! (*ke'gep bokap)
Awas ketabrak Kereta..
YOU ARE NEXT!!! (*ala Cong'li)
Thank you sis!
Kok masih berdarah?
pandji:
tadi makan sambel?
"Kamu diem aja...."
"ga bececeran kaaan?" (That's three right?)
"Kapan dia pulang?"
"Nama saya Pandji..."
"Anggep aja enak.."
"Kamu laper nggak?"
"Matiin AC dong..."
ndorokangkung
celanaku tadi mana
kenapa gatel ya?
please, don't go
aduh, anak-anak bangun
punya kembalian nggak?
kamar mandinya mana?
jangan lupa cebok
anjrit ngeunah pisan
ismanhs:
Who's piloting, then?
Vidi, vici, VENI!
Insert coin? Where?
Fifty experience points!
I'm acrophobic, Superman
Oh, inflate BEFORE...!
Okay, TIME! Woohooo!
The key, please.
Sunday, November 08, 2009
Friday, November 06, 2009
KPK vs Polisi
Kasus KPK vs Polri ini buat saya membuktikan beberapa hal, terutama betapa besarnya kekuatan online sekarang ini, yang sudah dijadikan alternatif untuk menyuarakan suara rakyat. Dukungan yang begitu besar diberikan untuk Bibit dan Chandra ketika Polisi menahan mereka via Facebook. Pagi ini ketika dicek, sudah ada lebih dari 900.000 pendukung di Facebook.Waw....
Mungkin ada benarnya juga ketika seorang narasumber di TVOne kemarin bilang, rakyat berpaling ke media online karena sudah tidak percaya kepada wakil dan pemerintah. Rakyat punya alternatif untuk menyuarakan pendapat mereka...dan itu mempunyai efek yang luar biasa besar. Snowball efect.
Tapi ketika Bibit-Chandra sudah ditangguhkan penahanannya, Anggodo bernyanyi di TVOne, Kapolri datang ke DPR, saya kok berpikiran apakah kita semua, termasuk saya, terlalu cepat untuk menilai sesuatu tanpa melihat sisi lainnya?
Harusnya disini peran media. Memberikan informasi sebanyak-banyaknya, dari berbagai sisi, untuk membiarkan penilaian ada di tangan masyarakat. Yang harus dijunjung tinggi adalah bukan hasil akhir...tapi prosesnya...(yeah...look at myself...)
Saturday, October 31, 2009
anak kecil
Saya selalu penasaran apa yang ada di pikiran anak kecil, dalam hal ini: Putri Jail. Pagi dan siang ini saya habiskan dengan dia karena my partner harus mengurusi acara kantor.
Coba liat Puti Jail sekarang: melipat-lipat kertas hias pembungkus sambil berbicara sendiri. Sesekali bersenandung.
Asyik dengan dunia-nya sendiri.
Salah satu kesukaan Putri Jail sekarang ini adalah olah raga halang-rintang: dia minta saya berbaring dekat tembok, lalu sambil berpegangan ke tembok dia jalan diatas badan saya. Setelah sampai di bahu, dia menjatuhkan diri ke kasur....
Coba liat Puti Jail sekarang: melipat-lipat kertas hias pembungkus sambil berbicara sendiri. Sesekali bersenandung.
Asyik dengan dunia-nya sendiri.
Salah satu kesukaan Putri Jail sekarang ini adalah olah raga halang-rintang: dia minta saya berbaring dekat tembok, lalu sambil berpegangan ke tembok dia jalan diatas badan saya. Setelah sampai di bahu, dia menjatuhkan diri ke kasur....
Friday, October 30, 2009
Menulis

Saya selalu ingat kata-kata Pramudya, seorang penulis besar,: menulis adalah pekerjaan sejarah.
Dengan pikiran itu, saya dulu memulai blog ini.
Dulu memang agak gampang, pekerjaan saya adalah wartawan, yang sebagian besar memang menulis.
Malah, saya sempat membuat blog yang isinya adalah info-info terselubung yang nggak bisa muncul di koran, atau info-info yang hilang saat di-edit redaktur.
Tapi seiring dengan berubahnya pekerjaan: menjadi konsultan, saya jadi merasa kesulitan untuk menumpahkan ide lewat tulisan.
Kembali lagi ke menulis.
Buat saya, menulis adalah salah satu cara yang paling efisien dan mutakhir untuk mengkomunikasikan ide-ide kita, bagaimana kita menerangkan ide kita ke orang lain.
Berbeda dengan berbicara,saat kita menulis, kita bisa melakukan perbaikan (di-edit) sebelum kita menyampaikan pesan kita ke orang lain. Sedangkan komunikasi verbal atau berbicara, rasa-rasanya tidak mempunyai kemewahan itu. Salah berbicara, maka orang yang mendengar salah paham.
Jadi begitulah, saya memulai blog ini dengan tujuan ingin menulis lebih luas lagi, bukan hanya menulis untuk berita di koran.
Rasa-rasanya, banyak sekali ide-ide penulisan untuk di-share di blog ini. Hanya saja saya merasa ruang lingkupnya kecil, saya terlalu malas untuk melakukan pengkajian lebih dalam, minimal lewat browsing di internet, atau diskusi dengan partner.
Mungkin hal ini yang membuat saya lebih suka membuka account Facebook atau Twitter. Up-date status disana nggak perlu panjang-panjang. Cukup dua atau tiga kalimat (itu juga mungkin kepanjangan...)
Atau mungkin saya bisa posting yang pendek-pendek aja ya?
Monday, October 05, 2009
Pelor
Meet my old friend of mine. Namanya, kita panggil saja Andi. Dia temen sekelas SMA saya di Bandung, waktu kelas satu. Saya baru ketemu dia lagi hari ini, pas mau brunch (sarapan kesiangan) di Bakso Akung.
Sebenernya, saya nggak terlalu dekat sama dia. Dia anak yang biasa-biasa aja, suka nongkrong abis pulang sekolah di warung belakang, sampe malem. Catatan: kami masuk siang waktu kelas 1 SMA dulu, bubaran sekolah sekitar waktu maghrib, jadi kalo nongkrong sebentar aja, emang udah malem.
Naik kelas, kami pisah kelas. Dan kemudian dia membangun 'reputasi'-nya sendiri di kalangan anak-anak yang masih meneruskan eskul nongkrongnya. Perlu diketahui juga, SMA kami punya tradisi tahunan dengan SMA sebelah: tawuran. Gimana nggak? SMA kami punya alamat yang sama dengan tiga SMA lainnya, hanya dibatasi tembok sekitar 2,5 meter. Jadi kalau sedang 'perang', tembok perbatasan itu jadi saksi berseliweran benda-benda keras. Yang paling umum batu, balok kayu dan botol minuman, yang paling parah, mungkin kursi kelas rongsokan. Paling kasihan adalah kelas-kelas yang letaknya di dekat tembok perbatasan itu. Waktu kelas 1, saya pernah masuk ruangan kelas dan terheran-heran karena semua jendela kaca pecah semua, ternyata paginya ada tawuran. Dan waktu kelas 2, pernah terjadi kehebohan setelah pelajaran olah raga, karena tiba-tiba terjadi hujan batu dan memecahkan jendela-jendela kelas kami (lagi...).
Anyway, Andi membangun reputasinya disini. Meskipun dia termasuk anggota KS (Keamanan Sekolah, salah satu eskul yang paling sangar...karena tiap masa bimbingan penerimaan anggota baru, si calon anggota harus duel dulu sama senior). Dia punya julukan: pelor alias peluru, entah buat tinju-nya atau lari-nya. Yang pasti, julukan itu membuat pandangan saya berubah ke dia: agak kagum. Siapa yang nggak seneng punya temen okem atau preman? Kalo ada apa-apa, kan tinggal minta tolong aja sama dia.
Pas kuliah, saya denger kabar kalo Andi masuk Akpol dan ditugaskan di Timtim. Ini yang ngebuat saya agak heran...jagoan sekolahan bisa jadi polisi? Wew....(mungkin nanti saya cerita juga salah satu temen SMA saya, jagoan sekolahan yang sekarang jadi: pengacara).
Tapi hari ini saya membuktikan kalau cerita tentang dia benar. Hanya saja dia sekarang ditugaskan di Medan.
Ini salah satu bukti kalau cerita kehidupan bisa berubah.
Sebenernya, saya nggak terlalu dekat sama dia. Dia anak yang biasa-biasa aja, suka nongkrong abis pulang sekolah di warung belakang, sampe malem. Catatan: kami masuk siang waktu kelas 1 SMA dulu, bubaran sekolah sekitar waktu maghrib, jadi kalo nongkrong sebentar aja, emang udah malem.
Naik kelas, kami pisah kelas. Dan kemudian dia membangun 'reputasi'-nya sendiri di kalangan anak-anak yang masih meneruskan eskul nongkrongnya. Perlu diketahui juga, SMA kami punya tradisi tahunan dengan SMA sebelah: tawuran. Gimana nggak? SMA kami punya alamat yang sama dengan tiga SMA lainnya, hanya dibatasi tembok sekitar 2,5 meter. Jadi kalau sedang 'perang', tembok perbatasan itu jadi saksi berseliweran benda-benda keras. Yang paling umum batu, balok kayu dan botol minuman, yang paling parah, mungkin kursi kelas rongsokan. Paling kasihan adalah kelas-kelas yang letaknya di dekat tembok perbatasan itu. Waktu kelas 1, saya pernah masuk ruangan kelas dan terheran-heran karena semua jendela kaca pecah semua, ternyata paginya ada tawuran. Dan waktu kelas 2, pernah terjadi kehebohan setelah pelajaran olah raga, karena tiba-tiba terjadi hujan batu dan memecahkan jendela-jendela kelas kami (lagi...).
Anyway, Andi membangun reputasinya disini. Meskipun dia termasuk anggota KS (Keamanan Sekolah, salah satu eskul yang paling sangar...karena tiap masa bimbingan penerimaan anggota baru, si calon anggota harus duel dulu sama senior). Dia punya julukan: pelor alias peluru, entah buat tinju-nya atau lari-nya. Yang pasti, julukan itu membuat pandangan saya berubah ke dia: agak kagum. Siapa yang nggak seneng punya temen okem atau preman? Kalo ada apa-apa, kan tinggal minta tolong aja sama dia.
Pas kuliah, saya denger kabar kalo Andi masuk Akpol dan ditugaskan di Timtim. Ini yang ngebuat saya agak heran...jagoan sekolahan bisa jadi polisi? Wew....(mungkin nanti saya cerita juga salah satu temen SMA saya, jagoan sekolahan yang sekarang jadi: pengacara).
Tapi hari ini saya membuktikan kalau cerita tentang dia benar. Hanya saja dia sekarang ditugaskan di Medan.
Ini salah satu bukti kalau cerita kehidupan bisa berubah.
Sunday, October 04, 2009
Putri Jail
Hampir persis tiga tahun yang lalu, saya duduk kebingungan. Di samping saya, my partner berbaring merintih di sebuah rumah sakit bersalin. Saya bingung soalnya mau ngajak ngobrol dia, dengan maksud mengalihkan perhatian dari rasa sakitnya, malah balik kena marah. Saya diam saja juga malah dicubit.
Perempuan yang mau bersalin memang aneh.
Kami datang ke rumah sakit itu siangnya, saya datang sekitar jam 11-an dari kantor, setelah saya ditelepon dan diberi tahu bahwa ketuban my partner sudah pecah dan harus segera dibawa ke rumah sakit bersalin tempat dia kontrol kehamilan. Saya datang duluan dan my partner datang belakangan
Dan setelah sekitar 12 jam lebih merintih, dan sedikit menangis (tidak lupa cubitan
Kami beri nama dia: Pendar Ramadhani Anitya. Nama pilihan ibunya, my partner.
Pendar, kami berharap dia berpendar. Cahaya kecil dalam gelap yang tidak akan pernah padam. Menerangi kehidupan kami. Pendar, sama seperti saat malam dia dilahirkan, bulan purnama penuh yang berpendar.
Ramadhani, yah mungkin sudah tertebak. Dia lahir di bulan Ramadhan, tanggal 11.
Anitya. Artinya selalu berubah. Tidak diam. Selalu berubah. Seperti kehidupan yang memang selalu berubah.
Kehadiran Pendar seperti menggenapi kehidupan kami, saya dan my partner. S
Dari awal kelahirannya, Pendar membuat saya terkagum-kagum. Begitu keluar dari perut ibunya, mata dia yang besar menatap nanar benda-benda di sekelilingnya. Dia sempat menatap saya dengan matanya. Saya tersenyum. Walaupun beberapa saat setelah itu saya sadar dia belum bisa melihat senyum saya, mungkin dia bisa merasakan. Tapi tetap saja, dia membuat kagum. Oh ya, tangisannya juga keras. Amat keras. Saya sempat merekam suara tangisan pertama
Sekarang, dia sudah berumur tiga tahun. Tiga tahun kehidupan saya (kami) yang penuh warna. Kadang cerah dan kadang kelabu. Tapi lebih banyak cerah. Sepertinya tiap hari ada cerita tentang putri jail. Saya bangga dengan dia.
Sekarang dia sudah punya kemauannya sendiri, dan sudah bisa mengkomunikasikan kemauannya. Walaupun caranya masih agak 'memaksa' dan intimidatif (dengan rengekan). Saya punya banyak keinginan tentang Pendar. Sejuta harapan dari saya buat dia. Tapi menurut saya, yang paling penting adalah dia hidup bahagia.
Mudah-mudahan, kami selalu bisa memberikan yang terbaik buat dia.
Thursday, September 03, 2009
Tentang Gempa
Saya kemarin baru tahu, kenapa kalau di film-film, ada orang-orang yang cenderung diam ketika tanah yang mereka pijak bergoyang bahkan retak-retak. Kaya terpaku melihat bumi bergoncang.
Saya mengalaminya kemarin.
Gempa datang ketika saya sedang mengetik laporan di sebuah kantor konsultan di Bandung, daerah Antapani. Saya pikir: ini siapa ya yang iseng goyang-goyang meja...Padahal dua orang rekan saya yang sedang duduk di depan saya sama sekali tidak mempunyai profil orang iseng. They both an old man, over or almost 40. Baru ketika salah satu dari mereka bilang: ini gempa, gempa...Saya langsung lari keluar rumah (iya rumah, bukan gedung perkantoran), meninggalkan laptop saya dan alas kaki - saya doyan sekali nyeker-.
Sampai di luar, sudah banyak orang-orang berkerumun di jalan, di seberang sana ada seorang ibu sepuh yang dituntun oleh dua orang ibu lainnya. Masih mengenakan pakaian rumahan: daster, dan kerudung.
Di toko seberang, seorang balita dipangku sambil dipeluk (gimana coba: dipangku dan dipeluk? Ya begitulah) oleh bapaknya, sementara disampingnya ada seorang ibu yang berjongkok sambil (lagi-lagi) memeluk anaknya.
Saya sempet nge-tweet setelah sampai di luar, saya lihat ternyata ada beberapa tweeter lain di Jakarta yang juga sudah menginformasikan gempa.
Gempa-nya sampe Jakarta? Wah berarti Bekasi, Cianjur, Bogor, juga kerasa dong? Itu pikiran saya. Segera saya coba telepon my partner. Damn. Network Busy.
Gempa lagi.
Saya lihat tanah dan jalan, terlihat jelas, permukaan bumi bergoyang. Bumi gonjang-ganjing...kalo kata dalang wayang. Dan seketika itu juga saya merasa pusing dan mual.
Pantesan orang-orang di film suka kaya orang bego kalau terjadi gempa, daripada lari menyelamatkan diri, mereka malah diam terpana.
Kali ini saya yang kena. Saya yang seperti orang bego: melawan pusing dan mual supaya muntah, biar puasanya jalan terus.
Saya coba lagi telepon beberapa nomor telepon: rumah orang tua di Bandung, Putri Jail di Bekasi, dan my partner di Jakarta. Asem. Masih belum bisa.
Dua menit setelah keluar rumah kantor, listrik mati. Yah. Nelepon nggak bisa, kerja nggak bisa.
Gempa kemarin itu merupakan gempa terbesar yang pernah saya alami, rasa-rasanya gempa yang dulu-dulu saya alami nggak sebesar yang kemarin: paling banter lampu gantung goyang, tanpa saya merasakan guncangan.
Padahal katanya, gempa kemarin mempunyai kekuatan 7,3 skala richter dan pusatnya ada di kedalaman 30 km, sekitar 142 km sebelah sana Tasikmalaya. Jarak Tasikmalaya dan Bandung sendiri sekitar 50 km. Gimana kalo pusatnya lebih deketya? Let say di Tangkuban Perahu atau Lembang.
Goncangannya pasti lebih dahsyat.
Saya mengalaminya kemarin.
Gempa datang ketika saya sedang mengetik laporan di sebuah kantor konsultan di Bandung, daerah Antapani. Saya pikir: ini siapa ya yang iseng goyang-goyang meja...Padahal dua orang rekan saya yang sedang duduk di depan saya sama sekali tidak mempunyai profil orang iseng. They both an old man, over or almost 40. Baru ketika salah satu dari mereka bilang: ini gempa, gempa...Saya langsung lari keluar rumah (iya rumah, bukan gedung perkantoran), meninggalkan laptop saya dan alas kaki - saya doyan sekali nyeker-.
Sampai di luar, sudah banyak orang-orang berkerumun di jalan, di seberang sana ada seorang ibu sepuh yang dituntun oleh dua orang ibu lainnya. Masih mengenakan pakaian rumahan: daster, dan kerudung.
Di toko seberang, seorang balita dipangku sambil dipeluk (gimana coba: dipangku dan dipeluk? Ya begitulah) oleh bapaknya, sementara disampingnya ada seorang ibu yang berjongkok sambil (lagi-lagi) memeluk anaknya.
Saya sempet nge-tweet setelah sampai di luar, saya lihat ternyata ada beberapa tweeter lain di Jakarta yang juga sudah menginformasikan gempa.
Gempa-nya sampe Jakarta? Wah berarti Bekasi, Cianjur, Bogor, juga kerasa dong? Itu pikiran saya. Segera saya coba telepon my partner. Damn. Network Busy.
Gempa lagi.
Saya lihat tanah dan jalan, terlihat jelas, permukaan bumi bergoyang. Bumi gonjang-ganjing...kalo kata dalang wayang. Dan seketika itu juga saya merasa pusing dan mual.
Pantesan orang-orang di film suka kaya orang bego kalau terjadi gempa, daripada lari menyelamatkan diri, mereka malah diam terpana.
Kali ini saya yang kena. Saya yang seperti orang bego: melawan pusing dan mual supaya muntah, biar puasanya jalan terus.
Saya coba lagi telepon beberapa nomor telepon: rumah orang tua di Bandung, Putri Jail di Bekasi, dan my partner di Jakarta. Asem. Masih belum bisa.
Dua menit setelah keluar rumah kantor, listrik mati. Yah. Nelepon nggak bisa, kerja nggak bisa.
Gempa kemarin itu merupakan gempa terbesar yang pernah saya alami, rasa-rasanya gempa yang dulu-dulu saya alami nggak sebesar yang kemarin: paling banter lampu gantung goyang, tanpa saya merasakan guncangan.
Padahal katanya, gempa kemarin mempunyai kekuatan 7,3 skala richter dan pusatnya ada di kedalaman 30 km, sekitar 142 km sebelah sana Tasikmalaya. Jarak Tasikmalaya dan Bandung sendiri sekitar 50 km. Gimana kalo pusatnya lebih deketya? Let say di Tangkuban Perahu atau Lembang.
Goncangannya pasti lebih dahsyat.
Wednesday, August 26, 2009
Tuesday, July 21, 2009
Friday, June 19, 2009
Back to the previous and weird feeling
Dua minggu terakhir ini saya merasa kembali ke habitat perkuliahan.
Jadi setelah cabut dari pekerjaan saya di sebuah konsultan komunikasi, ayah saya mencemplungkan saya di konsultan perencanaan: kembali ke masa kuliah, dan merancang infrastruktur untuk sebuah rencana tata ruang kota...
Sounds cool ya...did I also mention that the nerve-racking also come in the package?
Well anyway...
Satu hal yang menyenangkan (sampai saat ini) dengan pekerjaan ini adalah, saya jadi punya kesempatan bepergian lagi. Setelah minggu lalu ke Batam, trus plesir ke Pulau Rempang dan Galang; minggu ini saya ada di Pulau Sabang. Jadi kemarin itu rasa-rasa hari yang patut diingat: naik tiga jenis moda kendaraan dalam satu hari (moda darat: mobil; moda udara: pesawat, dan moda laut: feri).
Ada satu hal yang (diantara beberapa lainnya) yang membuat saya berkesan karena: merinding. Itu saya alami di Pulau Galang dan di Banda Aceh.
Di Pulau Galang, saya dan rombongan mendatangi tempat pengungsi orang-orang Vietnam. Mereka menjadi pengungsi saat pecah Perang Vietnam tahun 60-an lalu. Mungkin ada sekitar ratusan pengungsi Vietnam yang datang ke Pulau Galang ini dengan hanya menggunakan kapal kayu sederhana untuk menempuh ribuan mil laut: lari dari perang saudara di kampung halaman mereka.
UNHCR berinisiatif untuk melobi pemerintah Indonesia agar mau menempatkan para pengungsi Vietnam ini di kawasan khusus, jadilah sebuah lahan di Pulau Galang menjadi tempat penampungan mereka, mereka hidup di Pulau Galang sana sekitar 20 tahunan.
Tadinya, ketika membayangkan tempat pengungsian bagi orang Vietnam itu, saya membayangkan barak-barak pengungsi yang suka terpampang di film-film perang dunia kedua produksi Hollywood....(too much movie I guess). Tapi ternyata saya tidak menemukan bangunan barak-barak yang saya bayangkan. Tempat penampungan pengungsi Vietnam mungkin lebih mirip sebuah desa kecil, dengan vihara, klinik kesehatan, tempat kegiatan orang muda, sampai dengan warung kopi.
Pernah mendatangi sebuah rumah kosong yang sudah lama tidak ditinggali selama beberapa waktu? Saya selalu merasakan keheningan yang mencekam dan perasaan sepi-mencekam yang tidak bisa jelaskan.
Dan coba bayangkan rumah kosong itu luasnya beribu-ribu kali lipat, yang sudah lama tidak ditinggali selama 20 tahunan. Rasa-nya semakin menusuk: melihat dan merasakan area yang sudah lama tidak ditinggali, padahal ratusan orang pernah riuh-rendah hidup disana selama waktu yang cukup lama.
Dan perasaan aneh yang sama juga saya rasakan ketika saya melihat kuburan masal korban tsunami di Aceh.
Ini adalah kali pertama saya ke Banda Aceh. Saya selalu merasa saya harus menjenguk saudara-saudara kita di Banda Aceh ketika masa pemulihan pasca tsunami beberapa tahun lalu. Saya waktu ini masih di Bisnis Indonesia.
Saya sudah sering mendengar cerita-cerita yang membekas dari tsunami aceh: jenazah yang bergelimpangan di mana-mana; masjid dan tempat-tempat tertentu yang secara ajaib tidak tersentuh tsunami; dan kuburan masal: belasan hingga puluhan – atau mungkin ratusan jenazah yang dikuburkan dalam satu liang lahat raksasa.
Melihat kuburan, saya juga selalu merasa aneh dan merinding, membayangkan bahwa dibawah sana ada seseorang yang pernah bernafas, bergerak, dan sekarang kaku terbujur. Mungkin sedang berkelana di alam lain. Seperti apa rasanya ya?
Dan sekarang kuburan itu berpuluh kali lipat (juga) lebih besar, tanpa batu nisan.
Yah...pekerjaan baru memang selalu menawarkan hal-hal yang mengejutkan.
Jadi setelah cabut dari pekerjaan saya di sebuah konsultan komunikasi, ayah saya mencemplungkan saya di konsultan perencanaan: kembali ke masa kuliah, dan merancang infrastruktur untuk sebuah rencana tata ruang kota...
Sounds cool ya...did I also mention that the nerve-racking also come in the package?
Well anyway...
Satu hal yang menyenangkan (sampai saat ini) dengan pekerjaan ini adalah, saya jadi punya kesempatan bepergian lagi. Setelah minggu lalu ke Batam, trus plesir ke Pulau Rempang dan Galang; minggu ini saya ada di Pulau Sabang. Jadi kemarin itu rasa-rasa hari yang patut diingat: naik tiga jenis moda kendaraan dalam satu hari (moda darat: mobil; moda udara: pesawat, dan moda laut: feri).
Ada satu hal yang (diantara beberapa lainnya) yang membuat saya berkesan karena: merinding. Itu saya alami di Pulau Galang dan di Banda Aceh.
Di Pulau Galang, saya dan rombongan mendatangi tempat pengungsi orang-orang Vietnam. Mereka menjadi pengungsi saat pecah Perang Vietnam tahun 60-an lalu. Mungkin ada sekitar ratusan pengungsi Vietnam yang datang ke Pulau Galang ini dengan hanya menggunakan kapal kayu sederhana untuk menempuh ribuan mil laut: lari dari perang saudara di kampung halaman mereka.
UNHCR berinisiatif untuk melobi pemerintah Indonesia agar mau menempatkan para pengungsi Vietnam ini di kawasan khusus, jadilah sebuah lahan di Pulau Galang menjadi tempat penampungan mereka, mereka hidup di Pulau Galang sana sekitar 20 tahunan.
Tadinya, ketika membayangkan tempat pengungsian bagi orang Vietnam itu, saya membayangkan barak-barak pengungsi yang suka terpampang di film-film perang dunia kedua produksi Hollywood....(too much movie I guess). Tapi ternyata saya tidak menemukan bangunan barak-barak yang saya bayangkan. Tempat penampungan pengungsi Vietnam mungkin lebih mirip sebuah desa kecil, dengan vihara, klinik kesehatan, tempat kegiatan orang muda, sampai dengan warung kopi.
Pernah mendatangi sebuah rumah kosong yang sudah lama tidak ditinggali selama beberapa waktu? Saya selalu merasakan keheningan yang mencekam dan perasaan sepi-mencekam yang tidak bisa jelaskan.
Dan coba bayangkan rumah kosong itu luasnya beribu-ribu kali lipat, yang sudah lama tidak ditinggali selama 20 tahunan. Rasa-nya semakin menusuk: melihat dan merasakan area yang sudah lama tidak ditinggali, padahal ratusan orang pernah riuh-rendah hidup disana selama waktu yang cukup lama.
Dan perasaan aneh yang sama juga saya rasakan ketika saya melihat kuburan masal korban tsunami di Aceh.
Ini adalah kali pertama saya ke Banda Aceh. Saya selalu merasa saya harus menjenguk saudara-saudara kita di Banda Aceh ketika masa pemulihan pasca tsunami beberapa tahun lalu. Saya waktu ini masih di Bisnis Indonesia.
Saya sudah sering mendengar cerita-cerita yang membekas dari tsunami aceh: jenazah yang bergelimpangan di mana-mana; masjid dan tempat-tempat tertentu yang secara ajaib tidak tersentuh tsunami; dan kuburan masal: belasan hingga puluhan – atau mungkin ratusan jenazah yang dikuburkan dalam satu liang lahat raksasa.
Melihat kuburan, saya juga selalu merasa aneh dan merinding, membayangkan bahwa dibawah sana ada seseorang yang pernah bernafas, bergerak, dan sekarang kaku terbujur. Mungkin sedang berkelana di alam lain. Seperti apa rasanya ya?
Dan sekarang kuburan itu berpuluh kali lipat (juga) lebih besar, tanpa batu nisan.
Yah...pekerjaan baru memang selalu menawarkan hal-hal yang mengejutkan.
Subscribe to:
Posts (Atom)


