blognya roi
dailies, feelings, thought
Sunday, July 26, 2026
Duka
Saturday, June 27, 2026
Mamah Udah Gak Ada
It's funny how small things can have a huge impact.
Siang ini tiba-tiba berasa ditarik lagi ke kenyataan bahwa Mamah udah meninggal - awal Februari lalu. Gara-gara ada petugas bank yang minta salinan akta kematian Mamah.
Duh, kenapa mata jadi berkaca-kaca ya? Hidung jadi bumpet.
Saturday, June 06, 2026
Pagi-pagi Pas Weekend
Pagi-pagi pas weekend, Sabtu atau Minggu sekitar jam 7 atau 8 pagi, biasanya gue usaha-in telepon ke Bandung. Kalau enggak pagi-pagi, biasanya sore sekitar jam 4 atau jam 5.
Buat ngobrol sama Mamah.
Tapi kebiasaan itu agak terganggu sekitar pertengahan atau akhir tahun lalu, waktu Mamah mulai sering dirawat di rumah sakit; dan sepertinya lebih sering ada di Bandung buat nemenin Mamah. Apalagi waktu Mamah beberapa kali keluar masuk ruang ICU.
Akhirnya kebiasaan itu praktis berhenti awal Februari tahun ini: 7 Februari Mamah meninggal dan 8 Februari dimakamkan.
Gara-gara lihat Podkesmas kemarin yang membahas parenting, khususnya tentang orang tua yang meminta maaf ke anaknya; gue jadi keingetan Mamah.
Para host Podkesmas bilang kalau orang tua mereka sepertinya gak pernah minta maaf ke anak-anak (mereka); well seinget gue Mamah gak gitu.
Di beberapa kesempatan, terlebih waktu pas gue pamit mau pulang ke anak istri, Mamah terkadang bilang: Maafin Mamah ya, salam buat [anak istri gue]. Mungkin Mamah merasa sungkan karena gue terkadang lebih banyak nemenin Mamah daripada sama anak istri gue.
Yah, harusnya Roi yang minta maaf ke Mamah - bales gue.
Maafain ya Mah.
Wednesday, May 20, 2026
Heist
Film-film dengan tema Heist adalah film yang masuk kategori favorit gue. Ocean series - Ocean 8, 11, 12, 13 -, Italian Job, Den of Thieves, Inside Job; dan yang lainnya, dan yang jadi salah satu legenda film Heist, film 90-an: Heat.
Heat jadi legenda karena pendukung dan pemainnya yang ada dalam kondisi puncak karir mereka: Robert De Niro, Al Pacino, Val Kilmer, dan Michael Mann sebagai produser.
Ada rencana buat Heat 2, yang katanya akan mulai shooting Agustus tahun ini. Pemain dan pendukungnya juga berkelas: Leonardo DiCaprio, Christian Bale, Bradley Cooper; yang kemungkinan ditambah juga Anna De Armas, Channing Tatum, John Bernthal, sama yang lainnya.
Semoga gak flop; gak kaya Den of Thieves 2: Pantera.
Thursday, May 14, 2026
MKG
Hari ini meeting offline Semanggi di MKG. Ini kali kedua kami meeting offline sejak Semanggi berdiri. Meeting pertama kalo gak salah sekitar akhir tahun lalu di Blok M.
Sebenernya gak terlalu banyak yang dibahas, tapi karena kami memang jarang ketemu offline, meeting nya jadi lumayan lama: dari jam 12:30-an sampai jam 19:00-an.
Sayangnya Mr. R gak bisa join, seperti yang bisa diduga.
Gue inget banget pertama kalinya gue ke mall ini, sekitar awal 2006-an, hampir 20 tahun yang lalu ternyata.
Waktu itu gue dan My Partner masih tinggal di Asem Baris, My Partner lagi hamil muda katanya waktu itu.
Beberapa hari sebelummya, gue dan My Partner ngeliat liputan tv tentang MKG ini. Digadang-gadang sebagai mall yang cukup besar - 5 mall dijadikan 1 - kami penasaran dan tertarik liat-liat mall ini.
Jadilah waktu libur panjang - liburan lebaran kalo gak salah - kami ke mall ini. Makan di Pizza Hut - curi-curi ambil sup prasmanan dua kali!
Meeting Semanggi-nya lumayan lancar. Sekitar 5 jam di tempat yang sama: Sate Senayan.
Gue bilang ke Miss D dan Miss M: semoga tahuh depan meeting offline nya bisa di Bogor atau Anyer.
Mantap!
Tuesday, May 12, 2026
Marapthon
Marapthon gampangnya adalah reality show 24 jam yang mengandalkan satu frame: sebuah living room dengan satu orang pemain inti, sembilan orang pemain pendukung, dan terkadang tamu undangan; yang ditambah dengan tampilan komen pemirsa.
Anak angkatan 90-an yang suka nonton film seri Friends pasti hafal dengan frame sebuah sofa di cafe tempat Chandler, Ross, Phoebe, Rachel, Monica dan Joey nongkrong. Kurang lebih seperti itulah.
Gue gak nonton Marapthon ini. Ngapain ya nonton live show 24 jam di YouTube, dengan para cast yang gue kurang familiar. Tapi gue tertarik buat ulasan awam tentang Marapthon ini.
Pertama, Marapthon dibuat selayaknya produksi acara yang serius, bukan sekedar dua-tiga kamera dipasang, ditambah lighting dan para cast berinteraksi flow in the go. Ada perencanaan matang disana: bagaimana mengatur jadwal para cast yang punya kegiatan masing-masing (meskipun mereka berkorban harus tampil 24 jam terus menerus selama dua atau tiga minggu, bahkan ketika mereka tidur pun!). Saat ini Marapthon sedang berjalan untuk musim ketiga. KETIGA!
Kedua meskipun sudah memasuki musim ketiga, dengan jumlah total penonton diperkirakan sampai ratusan juta, Reza Arap - salah satu penggagas Marapthon yang juga pemain inti alias ketua - mengakui bahwa Marapthon secara finansial masih merugi. Padahal dengan banyaknya endorser, saweran dan lain sebagainya, pendapatannya tidak bisa menutupi biaya operasional Marapthon. Agak miris memang, kenapa ini bisa terjadi. Tapi setidaknya kenyataan ini menambahkan kenyataan bahwa gak semua yang viral itu bisa menguntungkan.
Ketiga, ini yang buat saya bertanya-tanya juga: dengan angka viralitas yang cukup tinggi, dokumentasi langsung selama 24 jam selama berbulan-bulan - kenapa enggak ada kalangan ilmuwan yang melakukan pengkajian mendalam yang memanfaatkan acara ini ya? Padahal banyak yang bisa diambil sample-nya dari acara ini, misalnya penelitian interaksi sosial di era digital dengan mengambil kajian sample dari interaksi para pemain, interaksi pemain dengan para penonton lewat commenting system, interaksi pemain dengan bintang tamu. Hal lainnya yang mungkin bisa dikaji adalah pemahaman mengenai body language atau bahasa tubuh, dan juga psikologi yang berhubungan dengan interaksi sosial digital. Begitulah.
Friday, May 08, 2026
Menulis
Sudah beberapa waktu terakhir ini ada yang mengusik: harus mulai rajin menulis lagi.
Tapi apa yang ditulis? Daily routine? Thought? Bahkan kemauan awal kecil untuk membuka tablet dan buka aplikasi untuk menulis sepertinya perjuangan batin yang cukup berat: tarik ulur antara scroling gak jelas atau gogoleran sambil melamun.
Jadi teringat omongan seorang teman kuliah dulu waktu kami sama-sama berjuang mengerjakan skripsi atau tugas akhir. Jam kuliah sudah berkurang jauh, jadi lumayan banyak waktu luang. Tapi perjuangan untuk duduk di depan komputer, dan membuka file dokumen tugas akhir, juga butuh perjuangan berat. Padahal ketika sudah duduk dan membuka file dokumen, biasanya melanjutkan proses penulisan tugas akhir jadi lebih lancar.
That's it.
'Menulis' jadi timbul kembali karena pagi ini denger podcast Proxemics dengan Danang, yang disalah satu segmennya menyinggung tentang story telling. Danang bilang kenapa homeless media jadi lebih berkembang daripada tradisional media karena homeless media bisa dengan kreatif dan inovatif memanfaatkan beragam platform digital yang tersedia untuk story telling, sedangkan media tradisional masih agak kagok dengan platform-platform yang tersedia untuk story telling. Tradisional media masih terpaku pada output berupa artikel dan foto, paling banter video.
Intinya sama: story telling.
Aplikasi? Sekarang ini hampir tak terbatas dengan kehadiran teknologi digital melalui media sosial.
Jadi? Ayo Menulis.
Sedikit juga gak apa-apa.
Saturday, March 21, 2026
Lebaran Yang Beda
Ceramah Shalat Jumat kemarin, menurut gue, temanya agak beda: tradisi di Indonesia dari sudut pandang para orang tua: yang menantikan kedatangan anak-anaknya. Kita bilangnya mudik.
Ustadz-nya ngejelasin beragam pandangan dalam hadis tentang mudik ini. Dan satu yang menempel di benak gue: orang tua selalu menantikan kehadirannya anaknya saat musim mudik. Ada kebahagiaan khusus yang dirasakan orang tua saat melihat anak-anaknya kembali kumpul di saat lebaran.
Satu rasa kebahagiaan yang gak bisa dirasakan lagi sama orang tua gue; lebaran tahun ini adalah lebaran pertama kalinya gue dan sodara-sodara merayakan lebaran tanpa orang tua.
Tetep kumpul di rumah orang tua - tanpa kehadiran mereka. Mamah meninggal sekitar seminggu sebelum lebaran tahun ini dan My Oldman meninggal 6 tahun yang lalu.
Awal-awal gue menikah - mind you kalau gue dan my partner dan putri jail selalu merayakan lebaran di Bandung - my partner amaze dengan 'daya kekuatan' memasak Mamah. Bisa hampir, atau mungkin lebih, 24 jam masak menjelang lebaran, di malam takbir.
Jadi orang tua dengan 4 orang anak - mamah sendiri anak ke-4 dari 6 bersaudara - selalu membuat mamah mengisi meja makan di rumah dengan beragam masakan. Kebiasaan yang terus terbawa setelah pelan-pelan anak-anaknya keluar rumah.
Dan sekarang, di malam takbir, suasana dapur di rumah berbeda jauh. Relatif sepi.
Gue akan selalu merindukan semuanya.
Wednesday, February 11, 2026
Bandung Beda
Bandung, buat gue, bakalan jadi tempat yang sama sekali berbeda.
Sejak 7 Februari 2026. Sejak half of my paradise gone for good. Sejak Mamah gak merasakan sakit lagi.
Kesedihan gue adalah karena gue merasa harusnya gue merasa lebih sedih karena Mamah meninggal; gue melihat ada beberapa silver lining pas Mamah meninggal.
Yang pertama adalah memang mungkin sudah waktunya. Sejak tahun lalu, Mamah sudah harus keluar masuk rumah sakit karena kondisi sepuh. Dan salah satu keputusan terberat yang gue ambil adalah pada November tahun kemarin, waktu gue memutuskan memberikan persetujuan kepada rumah sakit untuk tindakan tracheostomy buat Mamah yang dirawat di ICU.
Tracheostomy adalah tindakan membuat lubang di tenggorokan untuk mempermudah proses masuknya oksigen ke paru-paru. Sisi negatifnya adalah, tracheostomy membuat pita suara tertekan, dan pada beberapa kasus, pita suara tidak bisa berfungsi dengan semestinya.
Setelah mamah sadar kelar tindakan operasi kecil tracheostomy, gue berulang kali meminta maaf ke Mamah.
Sejak tracheostomy itu, gue gak pernah denger lagi suara Mamah; dan gue kerap tertawa lebar saat mengartikan kata yang coba diucapkan Mamah sejak itu. Mamah masih bisa berkomunikasi dan kita bisa menerkanya dengan membaca gerak bibir.
Dan Sabtu, 7 Februari 2026 itu, kakak perempuan gue juga mengambil keputusan yang gue rasa paling berat yang pernah dia ambil; karena dia memilih untuk tidak menyetujui tindakan rumah sakit untuk melakukan resusitasi. Prosedur medis darurat untuk menyelamatkan nyawa saat pernapasan atau detak jantung seseorang berhenti.
Kakak gue itu lebih memilih untuk menemani Mamah di saat-saat terakhirnya. Membimbing Mamah untuk Talqin; membisikkan kalimat tauhid (Laa ilaha illallah). Sebuah pilihan yang menurut gue juga paling bijak.
Yang kedua adalah proses yang relatif singkat. Jam 6 pagi itu, Mamah masih sarapan lewat selang sonde. Tapi setelah itu kondisinya turun drastis. Dokter jaga menetapkan Mamah meninggal jam 06:56.
Dan yang ketiga adalah Mamah meninggal hari Sabtu pagi, yang menurut gue waktu yang 'baik'. Seperti halnya My Oldman yang meninggal di waktu yang 'baik' pada malam Jumat.
Bandung bakalan terasa berbeda banget.
Gue akan merindukan jalan pagi di sekitaran Borromeus, Dago, Dipatiukur: dengan pohon rindangnya, dengan rumah-rumah besar, daun-daun dan sesekali tupai yang berlari di kabel listrik.
Saturday, January 24, 2026
Metode Jakarta
Ini tentang membaca buku fiksi.