Tuesday, May 12, 2026

Marapthon

Marapthon gampangnya adalah reality show 24 jam yang mengandalkan satu frame: sebuah living room dengan satu orang pemain inti, sembilan orang pemain pendukung, dan terkadang tamu undangan; yang ditambah dengan tampilan komen pemirsa.

Anak angkatan 90-an yang suka nonton film seri Friends pasti hafal dengan frame sebuah sofa di cafe tempat Chandler, Ross, Phoebe, Rachel, Monica dan Joey nongkrong. Kurang lebih seperti itulah.

Gue gak nonton Marapthon ini. Ngapain ya nonton live show 24 jam di YouTube, dengan para cast yang gue kurang familiar. Tapi gue tertarik buat ulasan awam tentang Marapthon ini.

Pertama, Marapthon dibuat selayaknya produksi acara yang serius, bukan sekedar dua-tiga kamera dipasang, ditambah lighting dan para cast berinteraksi flow in the go. Ada perencanaan matang disana: bagaimana mengatur jadwal para cast yang punya kegiatan masing-masing (meskipun mereka berkorban harus tampil 24 jam terus menerus selama dua atau tiga minggu, bahkan ketika mereka tidur pun!). Saat ini Marapthon sedang berjalan untuk musim ketiga. KETIGA!

Kedua meskipun sudah memasuki musim ketiga, dengan jumlah total penonton diperkirakan sampai ratusan juta, Reza Arap - salah satu penggagas Marapthon yang juga pemain inti alias ketua - mengakui bahwa Marapthon secara finansial masih merugi. Padahal dengan banyaknya endorser, saweran dan lain sebagainya, pendapatannya tidak bisa menutupi biaya operasional Marapthon. Agak miris memang, kenapa ini bisa terjadi. Tapi setidaknya kenyataan ini menambahkan kenyataan bahwa gak semua yang viral itu bisa menguntungkan.

Ketiga, ini yang buat saya bertanya-tanya juga: dengan angka viralitas yang cukup tinggi, dokumentasi langsung selama 24 jam selama berbulan-bulan - kenapa enggak ada kalangan ilmuwan yang melakukan pengkajian mendalam yang memanfaatkan acara ini ya? Padahal banyak yang bisa diambil sample-nya dari acara ini, misalnya penelitian interaksi sosial di era digital dengan mengambil kajian sample dari interaksi para pemain, interaksi pemain dengan para penonton lewat commenting system, interaksi pemain dengan bintang tamu. Hal lainnya yang mungkin bisa dikaji adalah pemahaman mengenai body language atau bahasa tubuh, dan juga psikologi yang berhubungan dengan interaksi sosial digital. Begitulah.

No comments: