Wednesday, July 02, 2008

On boring day

Seharusnya postingan ini ditulis hari Senin lalu, ketika saya baru menempati gedung kantor yang baru. Sekalian meng-up date blog yang terbengkalai ini.
Tapi mungkin kesibukan pindahan, adaptasi dengan gedung baru, laporan harian untuk klien, dan terutama.... faktor kemalasan dari saya sendiri yang membuat postingan ini baru muncul sekarang.
(terganggu sebentar karena ada ibu RT yang baru menyerahkan kartu password masuk gedung - iya gedung yang baru ini juga seperti gedung kantor saat saya bekerja sebagai jurnalis dulu, harus mengibaskan kartu khusus dan memasukan password untuk masuk gedung-)
Dan sekarang saya posting lagi...
Pertama tentang gedung baru kantor saya.
Sampai sekarang, saya belum ada keluhan tentang gedung baru ini. Meskipun masih ada beberapa pekerja yang melakukan proses finishing gedung, atau wastafel yang peletakannya tidak sempurna sehingga kalau kita cuci tangan disana airnya kemana-mana, secara keseluruhan buat saya itu semua wajar karena gedung ini memang baru dan sedang direnovasi.
Yang paling membuat saya bisa lebih 'menerima' gedung baru ini adalah suasana sekitarnya. Gedung ini mengingatkan gedung kantor yang menerima saya bekerja di Jakarta untuk pertama kali, karena letaknya dekatnya dengan sebuah pasar tradisional.
Entah kenapa saya selalu bisa menikmati suasana pasar tradisional. Lebih dinamis. Kuli angkut yang lalu lalang, tawar-menawar harga penjual pembeli, ibu-ibu yang bertukar gosip, barang-barang atau sayuran atau ikan atau daging yang dijual.
Gedung yang baru ini juga dekat dengan pasar tradisional. Pasar tradisional yang sudah dibuat modern, jadi jauh lebih bersih. Tapi sayangnya masih agak sepi. No problem with me.
Pasar identik dengan tempat jajan atau makan. Ini juga yang jadi faktor kelebihan gedung baru ini kalau dibandingkan dengan gedung yang lama. Lebih banyak pilihan untuk makan. Bu Endang, Koka Bagana, Ayam Ganthari, Warung Cianjur, jejeran warung soto, singkong keju atau sekedar warteg 3m (murah meriah mencret...untung yang terakhir ini belum ke-alaman, semoga nggak).
Kedua tentang menulis.
Kenapa tentang menulis? Karena ada beberapa hal yang terlintas dibenak saya yang berkaitan erat dengan menulis dan penulis. Seperti tadi malam ketika mampir di Jephe Methe Tebet. Sambil menunggu partner makan, saya membaca sekilas sebuah novel yang lumayan baru. Ditulis oleh seorang mantan wartawan, tokoh yang lumayan terkenal. Novelnya bercerita tentang Indonesia dan konflik.
Menurut saya, novelnya 'nggak banget'. Satu, dari penggunaan bahasa yang aneh dan 'nggak banget'. Terasa dipaksakan. Kalau kata partner saya, itu yang disebut gaya bahasa sastra 80-an. 'Gaya bahasa Orde Baru', itu yang langsung terlintas di benak saya.Mmmm, mungkin karena pengaruh Orde Baru, jadi gaya bahasa penulis itu terkesan dipaksakan, tidak alami. Dua dari alur logika bahasa, yang juga 'nggak banget'. Mungkin ini akibat kesan saya tentang penggunaan bahasa yang 'nggak banget' itu tadi.
Tiga, endingnya. Iya, saya baca sekilas sekitar 30 halaman pertama dan langsung lihat endingnya. Ending-nya juga 'nggak banget'. Murahan. Terkesan penulisnya nggak mau repot-repot membuat ending yang lebih bagus. Cheesy. Empat, bukunya tebel banget. Saya salut buat orang-orang yang sudah selesai membaca novel tebal yang 'nggak banget' ini dan membuat tanggapan sekilas tentang novel ini (yang kemudian dicantumkan oleh penerbit di bagian awal novel sebagai teaser...). Butuh perjuangan berat untuk menyelesaikan membaca novel ini. Me salute you...need a stress-releaser maybe?
Ketiga tentang klien.
Damn...Damn...Damn...


2 comments:

hanny said...

weh, akhirnya udah pindahan, nih, rom? kapan selametan? hehehehe. novel siapa sih itu? kasih tau dong, biar gue gak beli :D

roi said...

@hanny
ada deh... pokoknya tebel :)