Saturday, March 21, 2026

Lebaran Yang Beda

Ceramah Shalat Jumat kemarin, menurut gue, temanya agak beda: tradisi di Indonesia dari sudut pandang para orang tua: yang menantikan kedatangan anak-anaknya. Kita bilangnya mudik. 

Ustadz-nya ngejelasin beragam pandangan dalam hadis tentang mudik ini. Dan satu yang menempel di benak gue: orang tua selalu menantikan kehadirannya anaknya saat musim mudik. Ada kebahagiaan khusus yang dirasakan orang tua saat melihat anak-anaknya kembali kumpul di saat lebaran. 

Satu rasa kebahagiaan yang gak bisa dirasakan lagi sama orang tua gue; lebaran tahun ini adalah lebaran pertama kalinya gue dan sodara-sodara merayakan lebaran tanpa orang tua. 

Tetep kumpul di rumah orang tua - tanpa kehadiran mereka. Mamah meninggal sekitar seminggu sebelum lebaran tahun ini dan My Oldman meninggal 6 tahun yang lalu. 

Awal-awal gue menikah - mind you kalau gue dan my partner dan putri jail selalu merayakan lebaran di Bandung - my partner amaze dengan 'daya kekuatan' memasak Mamah. Bisa hampir, atau mungkin lebih, 24 jam masak menjelang lebaran, di malam takbir.

Jadi orang tua dengan 4 orang anak - mamah sendiri anak ke-4 dari 6 bersaudara - selalu membuat mamah mengisi meja makan di rumah dengan beragam masakan. Kebiasaan yang terus terbawa setelah pelan-pelan anak-anaknya keluar rumah.

Dan sekarang, di malam takbir, suasana dapur di rumah berbeda jauh. Relatif sepi.

Gue akan selalu merindukan semuanya. 

No comments: